Suara dalam kepala
Jam 3 dini hari
Malam selepas jam 3 pagi dini hari, usia hampir menginjak 18 tahun, gue mulai berfikir cepat dan harus bisa mengambil keputusan secepatnya, apa yang akan gue pilih, apa yang menjadi tujuan gue, dan apa yang harus selalu gue genggam erat untuk fase berikutnya.
Gak banyak yang bisa gue lakukan pada waktu itu, gue hanya bisa menunggu dan harap-harap cemas keputusan yang gue ambil tidak akan gue sesali dikemudian hari. Jam menunjuk pukul 4 pagi, sudah waktunya gue ibadah subuh, yang gue harapkan isi kepala gue bisa terjawab pada malam itu.
Selepas gue selesai berdoa, tidak banyak perasaan yang terjawab langsung pada saat itu, bergegas gue tidur dikarenakan sepanjang malam gue tidak bisa tertidur dengan lelap, gue mulai mencari posisi dan bergegas tidur.
Isi kepala gue masih terus bertanya-tanya dan gue hanya bisa berharap pertanyaan ini semua bisa terjawab, dan gue bertekad untuk menyelesaikan apa yang udah gue mulai, saat itu gue tidak punya pasangan, gue baru saja putus dari Mawar, gue tidak mencoba melupakan tapi hanya saja rasa sedih gue tertutup oleh rasa sedih yang baru.
Malam sebelum jam 3 pagi, gue mandapati kabar bahwa orang tua gue baru aja meninggal, kejadian itu cukup buat gue terkejut. Gue mencari cara bagaimana cara menjadi seorang laki-laki yang dapat menepati janjinya selayaknya apa yang diajarkan beliau ke gue semasa hidupnya. Waktu itu di waktu yang tinggal sedikit gue coba berfikir sembari berusaha untuk tidur, tidak ada jawaban, hanya kegelisahan yang menghantui gue.
Melawan takdir
Gue terkenal sebagai seseorang yang keras kepala, bahkan tidak jarang gue dihina sebagai orang yang egois, pada malam itu gue tidak mendapatkan jawaban pasti akan kegelisahaan gue. Hanya saja ada seseorang yang berkata kepada gue "Lu harus ikhlas, ini semua yang terbaik buat orang tua lu, lu gak kasian sama dia?, lu mau memaksakan apa yang sebenarnya tidak bisa?", gue terkejut, bukan hanya tidak terima, tapi rasanya kalimat itu tidak cukup memuaskan bagi gue, dan di akhir pikiran gue, gue mulai dapat suatu pencerahan "Gue sering di hina keras kepala dan egois, lalu? kenapa gue sekarang harus menyerah begitu aja? justru sekarang saatnya buat nunjukin kalau gue memanglah seseorang yang keras kepala dan egois, takdir? gue sendiri yang akan melawan takdir, bahkan sampai tuhan sendiri pun tidak berkenan!".
Akhirnya, pikiran tersebut yang memengaruhi gue buat terus maju, mungkin tidak sekarang tapi gue bersumpah atas nama gue sendiri, bahwasaannya gue seseorang yang keras kepala dan egois, akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang gue mau, apa yang udah gue mulai, dan apa yang udah dititipkan, meskipun seribu tuhan dan seribu umatnya berkata "TIDAK" gue akan sampai di titik itu, di tanah itu, dan di harapan itu, bagaimanapun caanya. Karena, gue lah sosok keras kepala yang telah mereka ciptakan sendiri.
Hingga pada hari itu
Selesai dengan perdebatan di dalam kepala, gue mulai memikirkan langkah apa saja yang sekiranya dapat mendukung atau jalan yang paling mudah untuk mencapai apa yang gue mau. Gue ingat sekali dengan beberapa orang yang sudah jauh lama sekali tidak berhubungan sama keluarga gue, bahkan beberapa ada yang mempunya konflik atau masalah di hubungan keluarga gue, sekiranya orang tersebut dapat memberikan jawaban, gue mulai mencoba menghubungi nya kembali, syukur akhirnya gue datang, mengajukan keinginan gue dan bertanya yang sekiranya bisa gue lakukan pada saat itu. Di luar ekspetasi gue, ternyata begitu mudah mencapai kesepakatan, tetapi seseorang berkata kepada gue "Dia juga bermuka dua, lu harus hati-hati, lu belum tau aja". Gue gak ambil pusing, selagi keinginan dan pertanyaan gue dijawab dan diterima itu sudah cukup, selebihnya gak gue pikirkan karena itu bukan tujuan utama gue.
Gue sudah mendapatkan jawabannya, dan sekarang yang paling penting adalah bagaimana mendapatkan uang. Bagaimanapun gue sendiri yang harus bisa melakukan ini, sudah pasti gue butuh uang, karena tidak mungkin untuk meminta bantuan, gue mulai berfikir sekiranya ada seseorang yang bisa gue hubungi demi mendapatkan uang untuk menjalankan keinginan gue. Gue ingat ada satu orang penting yang sekiranya bisa dihubungi, ternyata masih disambut baik juga, gue tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, tidak terus terang kalau gue butuh pekerjaan, tapi perlahan dan selama 5 bulan dia menawarkan tanpa gue bertanya, pekerjaan yang dapat lumayan dan sekiranya cukup untuk menyelesaikan apa yang udah gue mulai selama ini.
