BULAN
Cahaya
Jam menunjukan pukul 00:00, malam itu gue coba keluar sebentar sambil membakar sebatang rokok gue, gue melihat ke arah bulan, saat itu bulan sedang menampilkan wujud sempurnanya, begitu terang ditengah malam yang begitu sunyi. Malam hari tenang, tapi kosong. Entah sejak kapan gue mulai menikmati malam yang begitu tenang, menatap bulan yang begitu indah bagi gue, tanpa gue sadar gue mulai mencintai malam, hanya di malam hari gue bisa merasa tenang, mungkin pada saat itu semua masalah dan lika liku kehidupan berhenti saat bulan mulai hadir, disaat itu gue mulai mengaggumi bulan.
Tidak ada yang gue lakukan pada malam hari, cukup menghisap rokok gue, lalu kopi hangat serta musik yang menjadi pengantar gue menuju ketenangan yang lebih dalam, perlahan-lahan gue tenggelam dalam indahnya malam dan bulan. Bulan, tidak pernah mempertanyakan mengapa ia hadir, apakah bulan tidak pernah bertanya mengapa ia diciptakan untuk menerangi gelap?, apakah bulan tidak pernah bertanya mengapa ia hadir disaat makhluk lain tertidur lelap? apakah bulan tidak bertanya demikian?.
Cahayanya, bentuknya, bahkan keberadaannya, seringkali terkalahkan oleh matahari, banyak manusia jatuh cinta pada senja tetapi sangat jarang manusia yang mencintainya. Ya gue ingin seperti bulan.
Tidak ada yang gue lakukan pada malam hari, cukup menghisap rokok gue, lalu kopi hangat serta musik yang menjadi pengantar gue menuju ketenangan yang lebih dalam, perlahan-lahan gue tenggelam dalam indahnya malam dan bulan. Bulan, tidak pernah mempertanyakan mengapa ia hadir, apakah bulan tidak pernah bertanya mengapa ia diciptakan untuk menerangi gelap?, apakah bulan tidak pernah bertanya mengapa ia hadir disaat makhluk lain tertidur lelap? apakah bulan tidak bertanya demikian?.
Cahayanya, bentuknya, bahkan keberadaannya, seringkali terkalahkan oleh matahari, banyak manusia jatuh cinta pada senja tetapi sangat jarang manusia yang mencintainya. Ya gue ingin seperti bulan.
Seperti Bulan
Gue ingin seperti bulan, jarang terlihat, menerangi dalam gelap, menggantikan sang pemeran utama, tanpa mempertanyakan untuk apa ia tercipta. Disaat orang lain mencintai senja, gue ingin seperti bulan, tetap indah meskipun hanya beberapa orang yang menyadarinya. Tidak sehebat matahari, tapi gue ingin menjadi sosok yang dicintai ketika siang hari menjadi bencana bagi sebagian orang. Senja mungkin indah, tapi malam adalah saksi bisu bagaimana indah mata gue menatap sosok-nya.
Gue mungkin kalah, tapi gue ingin menjadi seorang yang dicari bagi mereka yang sudah lelah dengan sinarmya, dan tentu saja menjadi indah bagi seseorang yang menyadarinya, Seperti Bulan.
Gue mungkin kalah, tapi gue ingin menjadi seorang yang dicari bagi mereka yang sudah lelah dengan sinarmya, dan tentu saja menjadi indah bagi seseorang yang menyadarinya, Seperti Bulan.
