JEDA
Berhenti,
Berhenti, tetapi tidak dengan titik melainkan dengan koma, berhenti sejenak. Ya, itu yang biasa gue lakukan, lagi pula kita tidak memiliki opsi lain selain berhenti sejenak bukan? apa yang bisa kita lakukan setelah berhenti selain melanjutkan?, tidak ada. Kehidupan, bahkan tidak mengizinkan kita untuk berhenti sejenak, kita sendiri yang menenatukan sementara kehidupan terus berjalan dengan semestinya, lika-liku kehidupan, entah pekerjaan, keluarga, atau tentang mengejar cita-cita, seperti kata Farid Stevy "Dan jalan satu-satunya, jalani sebaik kau bisa" dalam lagu nya yang bertajuk "GAS" , betul kita memang tidak memiliki pilihan lain, kita hanya bisa menjalani sebaik yang kita bisa.
Bukan cuman gue, mungkin ada banyak manusia diluar sana, bahkan mungkin yang pembaca blog ini juga merasakan bahwa rencana awal tidak seperti kenyataannya saat ini, mau bagaimana? kita hanya di beri jeda bukan behenti.
Bukan cuman gue, mungkin ada banyak manusia diluar sana, bahkan mungkin yang pembaca blog ini juga merasakan bahwa rencana awal tidak seperti kenyataannya saat ini, mau bagaimana? kita hanya di beri jeda bukan behenti.
Melanjutkan
Tarik nafas sejenak, bakar rokok, hisap, lalu hembuskan, kita siap lanjutkan apa yang sudah kita mulai, seperti itu ucap gue setiap harinya, lagipula banyak manusia diluar sana yang mungkin menginginkan di posisi gue. Perjalanan, tidak ada yang serupa, bahkan yang namanya perjalanan pasti ada yang sudah sampai di tujuan terlebih dahulu, sisanya? mungkin masih bertaruh pada lika-liku nya masing-masing di jalan. Lucu sepertinya jika gue mengingat bagaimana cara gue memandang sesuatu yang seharusnya tidak dapat dibandingkan secara realistis, masuk akal? bahkan gue tidak memikirkan hal tersebut, memikirkan bagaimana caranya supaya gue bisa sampai ditujuan tanpa melihat apa yang gue punya dan apa yang mereka punya, cukup konyol membandingkan hal tersebut pada saat itu. Berkaca, garis start gue dan mereka itu sudah berbeda bagaimana bisa gue finish di waktu yang sama seperti mereka?, mustahil? mungkin tidak tapi melihat apa yang gue punya , sangat naif gue berpikir demikian.
Langit kita masih sama, mungkin semesta yang menempatkan garis start gue lebih jauh yang menyebabkan gue finish lebih lama, disaat garis awal mereka penuh hujan bunga, pada saat itu juga garis awal gue dihujani mata pisau, menyakitkan tapi lebih baik sakit karena melewati daripada hanya menunggu. yakin gue hanya satu, gue akan sampai di tanah itu.
Langit kita masih sama, mungkin semesta yang menempatkan garis start gue lebih jauh yang menyebabkan gue finish lebih lama, disaat garis awal mereka penuh hujan bunga, pada saat itu juga garis awal gue dihujani mata pisau, menyakitkan tapi lebih baik sakit karena melewati daripada hanya menunggu. yakin gue hanya satu, gue akan sampai di tanah itu.
Dunia kita masih sama, tanah yang kita injak masih sama, bahkan udara yang kita hirup masih sama, hanya karena hujan kita berbeda bukan alasan gue buat berhenti terlalu lama, sakit sementara atau selamanya?, disaat mereka merakit kendaraan untuk mempercepat laju mereka, gue sedang menyiapkan payung baja agar tidak terluka begitu dalam.
Perhentian
Perhentian sementara, bukan akhir, rasanya raga gue seperti terbelah. Terjun dari puncak tanpa alat, tapi gue selalu yakin ada banyak cara meskipun berbeda, sekalipun gue harus melawan 5, 6, 7, 8 kemungkinan, gue cuman bisa ucap "MAJU SEMUA".
Ada yang bisa buat gue berhenti? tidak, jika gue berhenti sama saja dengan kalah tanpa syarat, jauh cakrawala dari mata, gue akan terus menantang cakrawala tersebut tanpa takut terbutakan oleh sinarnya. Mungkin esok atau nanti gue yakin pasti gue akan terbang dan melesat kian jauh dari garis awal, rasanya tak habis fikir bagaimana caranya untuk saat ini?.
Pecundang ini akan melewati batas kewajaran, mungkin gue akan tenggelam dalam gilanya perjalanan ini, seperti kata seseorang yang pernah gue dengar, laki-laki dapat hidup dikondisi apapun, rimba ya itu dunia yang dihadapi laki-laki, makan atau dimakan? gue hanya yakin pada satu hal, hujan akan segera mereda. Gue gak punya banyak opsi untuk jalan, gue hanya bisa mengalun mengikuti apa yang sudah ada meskipun itu bukan keinginan gue, jalan ini bukan jalan yang gue rencanakan dahulu. Bangun kembali lalu menjalani seperti biasanya.
