Melihat nanar tubuhku
04:00
Jarum jam menunjukan pukul 04:00 , aku baru saja selesai dari pelarianku, aku mengetuk pintu lalu ibuku membukakan pintu, "Baru pulang? gih tidur, kalau mau masak, pintunya dibuka" ucapnya. Tanpa nafsu makan aku mulai tertidur.
Sial, inikah "Taman bunga" yang selama ini ku dambakan?, rasanya asing bagiku, mengingat beberapa tahun kebelakang aku tidak pernah di posisi seperti ini, aku hanya berharap segera terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Bahkan, untuk bernafas begitu sulit, bantu aku menemui cara untuk bernafas kembali.
Sial, inikah "Taman bunga" yang selama ini ku dambakan?, rasanya asing bagiku, mengingat beberapa tahun kebelakang aku tidak pernah di posisi seperti ini, aku hanya berharap segera terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Bahkan, untuk bernafas begitu sulit, bantu aku menemui cara untuk bernafas kembali.
Terbangun pada siang hari, terik sinar membangunkanku dari tidurku, entah mengapa rasanya semakin hari tubuh ini semakin berat, aku menghampiri cermin lalu berkata "Sial siapa buruk rupa yang di hadapanku ini?" mataku sayu, sedikit merah, tubuhku semakin kering karena hampir setiap hari aku enggan untuk memasukan makanan ke tubuhku, aku lebih senang menghabiskan uangku untuk pelarian dibandingkan untuk membeli sesuap makanan.
Hari-hari biasanya
Hari-hari biasanya, karena aku masih seorang pelajar di salah satu sekolah berbasis Agama Negri, tidak menjadikan alasanku untuk tidak melakukan hal itu lagi. Malam tiba, aku mulai melakukannya, lagi, dan lagi. Aku sudah tidak peduli dengan realita hidupku sendiri, rasanya aku sudah tidak ingin lagi "Sadar" dalam duniaku sendiri, aku lebih suka hidup di dalam imajinasi dan fantasiku sendiri.
Ku biarkan semuanya menghilang dalam gelap, hingga menjelang pagi hari, aku pulang dan sempatkan sedikit waktu untuk tidur. Pukul 06:00 aku terbangun, waktu yang singkat untuk tidur yang "cukup" mungkin hanya satu sampai dua jam saja. Mataku cukup merah mungkin karena efek nanarku tadi malam dan kurangnya waktu tidurku, kala itu temanku bergurau kepadaku "Liat noh mata lu kaya kuli gak tidur lu ya semaleman?" , aku tidak menjawab hanya tertawa saja mungkin karena kepalaku masih belum pulih dari sisa semalam untuk merespon candanya.
Aku tidak ambil pusing, aku adalah siswa "Normal" di sekolah, karena seseorang berpesan kepadaku, "Kalau tidak bisa berprestasi, seenggaknya jangan bikin kasus di sekolah", ku sanggupi, di ruang kelas aku berusaha untuk tidak menunjukan sisi burukku, setidaknya jika ada guru saat itu aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja, jika tidak ada guru akan ku manfaatkan untuk tertidur sejenak. Ya untung saja, sekolahku tidak selalu ada guru, di beberapa mata pelajaran aku masih bisa menggunakan waktu itu untuk tertidur.
Tidak ada yang berubah hari demi hari, kebiasaanku sudah jadi bagian dari diriku sendiri, berharap seseorang membantuku? sepertinya pada saat itu aku masih mengharapkan itu, tapi omong kosong, aku jatuh terlalu dalam, seperti jurang tanpa dasar, aku semakin jatuh terlalu dalam, fantasiku semakin menarik tubuhku lebih dalam lagi, lebih lagi, dan lagi.
Nanar sudah tubuhku,
Ku biarkan semuanya menghilang dalam gelap, hingga menjelang pagi hari, aku pulang dan sempatkan sedikit waktu untuk tidur. Pukul 06:00 aku terbangun, waktu yang singkat untuk tidur yang "cukup" mungkin hanya satu sampai dua jam saja. Mataku cukup merah mungkin karena efek nanarku tadi malam dan kurangnya waktu tidurku, kala itu temanku bergurau kepadaku "Liat noh mata lu kaya kuli gak tidur lu ya semaleman?" , aku tidak menjawab hanya tertawa saja mungkin karena kepalaku masih belum pulih dari sisa semalam untuk merespon candanya.
Aku tidak ambil pusing, aku adalah siswa "Normal" di sekolah, karena seseorang berpesan kepadaku, "Kalau tidak bisa berprestasi, seenggaknya jangan bikin kasus di sekolah", ku sanggupi, di ruang kelas aku berusaha untuk tidak menunjukan sisi burukku, setidaknya jika ada guru saat itu aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja, jika tidak ada guru akan ku manfaatkan untuk tertidur sejenak. Ya untung saja, sekolahku tidak selalu ada guru, di beberapa mata pelajaran aku masih bisa menggunakan waktu itu untuk tertidur.
Tidak ada yang berubah hari demi hari, kebiasaanku sudah jadi bagian dari diriku sendiri, berharap seseorang membantuku? sepertinya pada saat itu aku masih mengharapkan itu, tapi omong kosong, aku jatuh terlalu dalam, seperti jurang tanpa dasar, aku semakin jatuh terlalu dalam, fantasiku semakin menarik tubuhku lebih dalam lagi, lebih lagi, dan lagi.
Nanar sudah tubuhku,
